Sepeda

Bab Petualangan: Dua Roda yang Menjadi Sahabat
(Dari Memoar Perjalanan Saya)
2019 – SekarangBersepeda bukan sekadar hobi bagi saya. Ia adalah teman setia, guru kesabaran, dan penyembuh jiwa yang hadir hampir setiap hari.Semuanya dimulai sebagai bagian dari komitmen kesehatan. Pagi hari, sebelum dunia benar-benar terbangun, saya sudah mengayuh sepeda menyusuri jalan-jalan kampung atau pinggir kota. Udara masih segar, embun menempel di daun-daun, dan sinar matahari pertama menyapa pelan. Saya sering menulis di akun X:“Sepeda pagi...”
#sepedaoke
Sore hari, setelah kesibukan mengajar dan kegiatan sosial, saya kembali mengeluarkan sepeda. Olahraga sore dengan bersepeda menjadi penutup hari yang indah. Kadang hanya keliling kompleks, kadang menjelajah rute yang lebih jauh. Caption sederhana saya selalu sama: “Sepeda sore...” atau “Bersepeda lagi...”Banyak orang melihat bersepeda sebagai olahraga. Bagi saya, itu lebih dari itu. Di atas dua roda, saya merenung. Saya berdoa. Saya mensyukuri tubuh yang masih kuat, napas yang masih teratur, dan pemandangan kecil yang sering terlewatkan kalau hanya naik motor atau mobil. Angin yang menyapu wajah, keringat yang mengalir, detak jantung yang stabil — semuanya menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah anugerah yang harus dijaga dengan konsistensi.Rutinitas ini yang kemudian membekali saya untuk petualangan yang lebih berat. Kekuatan kaki dan paru-paru yang terlatih dari bersepeda rutin menjadi modal utama ketika saya mendaki Gunung Kerinci, Singgalang, atau pergi ke kaki Semeru. Saya percaya, puncak-puncak besar dimenangkan lebih dulu di rutinitas kecil sehari-hari.Ada kalimat yang pernah saya tulis yang cukup mewakili perasaan saya:
“Rutinitas yang dirutinkan… Commitment.”
Bersepeda mengajarkan saya disiplin. Hujan deras, panas terik, capek kerja, atau malas — semua alasan itu pernah muncul. Tapi saya tetap keluar. Karena saya tahu, setiap kali saya mengayuh pedal, saya bukan hanya menjaga tubuh, tapi juga menjaga semangat hidup.Hingga hari ini, meski frekuensi postingnya sudah berkurang, dua roda itu masih menjadi bagian penting dari hidup saya. Setiap kali saya melihat sepeda di garasi, saya tersenyum. Ia bukan barang mati. Ia adalah saksi bisu ribuan kilometer perjalanan, ribuan pagi yang penuh syukur, dan ribuan sore yang penuh harapan.Alhamdulillah untuk setiap putaran roda, setiap hembusan napas, dan setiap hari yang saya lalui dengan gerak.Bersepeda mengingatkan saya bahwa perjalanan hidup tidak perlu selalu dramatis atau jauh. Kadang, cukup mengayuh pelan tapi konsisten, menikmati perjalanan, dan pulang dengan hati yang lebih ringan

Komentar

Postingan Populer