menyapa Dewi

Bab Petualangan: Menyapa Dewi di Singgalang
(Dari Memoar Perjalanan Saya)
Februari 2012Lebih dari tujuh tahun sebelum Kerinci, api petualangan sudah menyala di dada saya. Saat itu, di bulan Februari 2012, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Singgalang di Sumatera Barat.Gunung Singgalang berdiri anggun dengan ketinggian sekitar 2.877 mdpl. Ia bukan gunung berapi aktif lagi, melainkan sebuah raksasa yang menyimpan keindahan istimewa di puncaknya: Telaga Dewi, sebuah danau kawah yang tenang, jernih, dan penuh misteri. Konon, namanya diambil dari legenda seorang dewi yang turun ke bumi.Saya berangkat menuju jalur pendakian utama via Pandai Sikek, Tanah Datar. Dari Pasar Koto Baru, perjalanan dilanjutkan menuju pos pendakian di desa Tanjuang. Udara Sumatera Barat yang sejuk menyambut saya sejak awal. Jalur dimulai dari hutan tropis yang lebat, tanjakan yang bervariasi, akar-akar pohon besar yang menjuntai, dan sesekali suara angin yang berhembus di antara pepohonan.Perjalanan menuju Telaga Dewi tidak mudah. Ada bagian yang becek, berlumpur, dan jalur yang datar namun licin di antara hutan lumut. Kabut sering turun, membuat suasana semakin magis. Setiap langkah terasa seperti mendekatkan saya pada sesuatu yang suci.Dan akhirnya, saya tiba.Di depan mata saya terbentang Telaga Dewi. Airnya tenang seperti cermin, mencerminkan langit dan pepohonan di sekitarnya. Kabut tipis menyelimuti permukaan danau, menciptakan suasana damai yang sulit dilupakan. Saya berdiri di sana, mengabadikan momen dengan kamera sederhana saat itu. Tak banyak kata yang saya ucapkan. Hanya rasa syukur yang mendalam.Pada 20 Februari 2012, saya membagikan beberapa foto pertama di akun X saya dengan caption sederhana:
  • “Gunung Singgalang”
  • “Telaga Dewi, Gunung Singgalang”
Hanya itu. Foto-foto yang kini menjadi kenangan berharga — saksi bisu awal mula semangat traveling dan mendaki saya.Singgalang mengajarkan saya bahwa petualangan tidak selalu harus mencapai puncak tertinggi atau melakukan hal-hal ekstrem. Kadang, cukup menyapa sebuah telaga di puncak gunung, merasakan ketenangan alam, dan pulang dengan hati yang lebih bersih. Ia menjadi fondasi bagi semua perjalanan saya selanjutnya.Dari Singgalang yang damai, saya belajar menghargai keindahan kecil di tengah perjalanan. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya berdiri di puncak Kerinci yang berasap dan berangin kencang, saya sadar bahwa keduanya saling melengkapi: Singgalang memberi ketenangan, Kerinci memberi kekuatan.Kedua gunung itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita hidup saya — pengingat bahwa perjalanan dimulai dari langkah sederhana di tahun 2012, dan terus berlanjut hingga hari ini.Alhamdulillah, untuk setiap puncak yang pernah saya injak, dan setiap telaga yang pernah saya sapa.

Komentar

Postingan Populer