Rekap
Langkah yang Tak Pernah Berhenti
Memoar Perjalanan SayaPendahuluanSaya adalah seorang ayah, guru, petualang, dan pribadi biasa yang memilih untuk terus bergerak. Buku kecil ini adalah catatan perjalanan hidup saya — dari puncak gunung hingga halaman sekolah, dari putaran roda sepeda hingga senyuman anak-anak yatim. Semuanya dirangkai oleh satu benang merah: gerak, syukur, dan kasih.Bab 1: Puncak KerinciJuni 2019Langit Sumatra masih gelap ketika saya memulai langkah itu. Udara pagi yang dingin menusuk kulit, namun api semangat di dada jauh lebih hangat. Kerinci memanggil, dan saya menjawabnya.Pada 27 Juni 2019, saya tiba di kawasan Kerinci, Jambi. Saya hanya menulis satu kata di akun X: “The moment...” Dua kata sederhana yang menyimpan segala gejolak hati.Pendakian dari Kersik Tuo melewati hutan lebat dengan tanjakan tanpa henti. Malam itu saya tidur di shelter dengan perasaan campur aduk. Keesokan harinya, 30 Juni 2019, dini hari, saya mulai summit push. Akhirnya, kaki saya menginjak puncak Gunung Kerinci (3.805 mdpl). Kabut terbuka, kawah berasap, dan lautan awan menyambut.Saya hanya menulis:
“Alhamdulillah bisa nginjakan kaki di puncak gunung kerinci..pagi tadi...”Kerinci bukan sekadar gunung yang ditaklukkan. Ia adalah bukti bahwa rutinitas sehat yang saya jaga selama ini membawa saya ke tempat yang dulu hanya mimpi.Bab 2: Menyapa Dewi di SinggalangFebruari 2012Lebih dari tujuh tahun sebelum Kerinci, api petualangan sudah menyala. Di bulan Februari 2012, saya mendaki Gunung Singgalang (2.877 mdpl) di Sumatera Barat untuk menyapa Telaga Dewi.Jalur via Pandai Sikek penuh tantangan: hutan lebat, tanjakan, akar pohon, dan lumpur. Kabut menyelimuti perjalanan, menciptakan suasana magis. Saat tiba di tepi Telaga Dewi, airnya tenang seperti cermin. Saya berdiri di sana, mengabadikan momen dengan kamera sederhana.Pada 20 Februari 2012, saya membagikan foto-foto itu di X dengan caption sederhana. Singgalang mengajarkan saya bahwa petualangan tidak selalu harus ekstrem. Kadang cukup menyapa sebuah telaga di puncak gunung dan pulang dengan hati yang lebih bersih.Bab 3: Menyaksikan MahameruDesember 2021Rencana lama yang akhirnya terealisasi. Di bulan Desember 2021, saya tiba di Lumajang untuk melihat Gunung Semeru.Pagi itu, 21 Desember 2021, saya menulis:
“Pagi di Lumajang.. Dulu hanya rencana aja...”Jalur pendakian sedang dibatasi setelah erupsi. Saya tidak memaksakan diri ke puncak. Melihat Mahameru dari kejauhan dengan asap putih yang mengepul sudah cukup. Semeru mengajarkan kerendahan hati dan kesabaran — bahwa tidak semua rencana harus langsung tercapai, kadang cukup menyaksikan dan bersyukur.Bab 4: Dua Roda yang Menjadi Sahabat2019 – SekarangBersepeda adalah teman setia saya. Pagi dan sore, saya mengayuh menyusuri jalan kampung, menikmati udara segar dan pemandangan kecil yang sering terlewatkan.“Sepeda pagi...”
“Rutinitas yang dirutinkan… Commitment.”Bersepeda memberi saya kekuatan fisik dan mental untuk mendaki gunung. Ia mengajarkan disiplin dan kesederhanaan. Setiap putaran roda adalah doa dan syukur.Bab 5: Air yang Menyembuhkan2019 – SekarangRenang melengkapi rutinitas saya. Setelah bersepeda atau lari, saya mencari kolam untuk membersihkan tubuh dan pikiran. Di dalam air, saya merenung, berdoa, dan mengatur napas.Renang mengajarkan ketahanan napas dan ketenangan jiwa. Ia memberi ruang pribadi di tengah kesibukan sebagai ayah dan guru.Bab 6: Langkah yang Tak Pernah Berhenti2019 – SekarangLari adalah meditasi bergerak saya. Pagi atau sore, saya berlari dengan langkah santai sambil merenung dan berdoa.Lari mengajarkan ketahanan dan kesederhanaan. Setiap langkah memperkuat mental saya untuk menghadapi tantangan hidup dan gunung.Bab 7: Menanam Benih di Hati Kecil2019 – SekarangSaya mendampingi TK PAUD Siaga dan Rumah Tahfidz Al Ikhlas. Melihat anak-anak belajar, bermain, dan menghafal Al-Qur’an adalah kebahagiaan tersendiri.“Yang penting sekolah.. Baju beragam tidak bermasalah...”Pendidikan adalah bentuk pemberdayaan jangka panjang. Di sini saya belajar bahwa menanam ilmu di hati kecil adalah investasi yang tak pernah rugi.Bab 8: Pelabuhan yang Selalu KembaliSepanjang Hidup – Sampai Hari IniKeluarga adalah fondasi dan motivasi utama saya. Rumah adalah pelabuhan yang selalu saya rindukan setelah setiap petualangan.Saya jarang memposting momen keluarga, tapi mereka ada di setiap doa dan langkah saya. Mereka memberi makna pada semua perjalanan. Tanpa mereka, segalanya akan terasa hampa.Bab 9: Air Mata dan Senyuman yang Tak Terlupakan2019 – Sampai Hari IniKeterlibatan saya dengan Baznas dan kegiatan sosial berasal dari dorongan hati yang dalam. Momen Wisuda Tahfidz membuat air mata saya hampir jatuh — melihat anak-anak kecil naik panggung dengan penuh kebanggaan.Memberi mengajarkan kerendahan hati. Setiap senyuman yang saya lihat adalah pelukan dari Tuhan. Sosial mengingatkan saya bahwa perjalanan paling indah adalah yang bermanfaat bagi orang lain.Bab Kesimpulan: Langkah yang Tak Pernah BerhentiMei 2026Saya menoleh ke belakang dan melihat satu benang merah yang indah: gerak, syukur, dan kasih.Saya bukan pendaki profesional atau atlet. Saya hanya pribadi biasa yang memilih untuk terus bergerak. Rutinitas olahraga mengajarkan disiplin, gunung mengajarkan kerendahan hati, pendidikan dan sosial mengajarkan arti memberi, serta keluarga mengajarkan arti pulang.Pelajaran terbesar saya:
Hidup yang baik bukan diukur dari seberapa tinggi puncak yang kita capai, melainkan seberapa konsisten kita melangkah, seberapa ikhlas kita memberi, dan seberapa besar kita bersyukur.Alhamdulillah…
Perjalanan ini masih panjang. Dan saya siap melanjutkannya, satu langkah demi satu langkah, dengan hati yang penuh syukur.
Akhir Memoar
Sudah lengkap dan siap Anda copy-paste ke Microsoft Word. Anda bisa menambahkan foto-foto lama di antara bab-bab jika mau.Mau saya buatkan Kata Pengantar atau Daftar Isi juga? Atau ada revisi akhir sebelum dicetak? Silakan beri tahu!
Komentar
Posting Komentar