Petualangan: Puncak Kerinci

Bab Petualangan: Puncak Kerinci
(Dari Memoar Perjalanan Saya)
Juni 2019Langit Sumatra masih gelap ketika saya memulai langkah itu. Udara pagi yang dingin menusuk kulit, namun api semangat di dada jauh lebih hangat. Kerinci memanggil, dan saya menjawabnya.Beberapa hari sebelumnya, pada 27 Juni 2019, saya tiba di kawasan Kerinci, Jambi. Saya hanya menulis satu kata di akun X saya: “The moment...” Dua kata sederhana yang menyimpan segala gejolak hati — campuran antara gugup, excited, dan haru. Basecamp masih sepi, kabut menyelimuti perkebunan teh, dan di kejauhan berdiri megah Gunung Kerinci, si raksasa berapi setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut, yang merupakan gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara.Pendakian dimulai dari Kersik Tuo. Jalur klasik ini membawa saya melewati pintu rimba, hutan tropis yang lebat, dan tanjakan tanpa henti. Hari pertama adalah ujian kesabaran: melewati Pos 1 Bangku Panjang, Pos 2 Batu Lumut, hingga Pos 3 Pondok Panorama. Setiap langkah disertai deru napas yang semakin berat, keringat yang bercampur dengan embun daun, dan sesekali suara burung yang menyapa di tengah kesunyian hutan Kerinci Seblat.Malam itu saya tidur di shelter dengan perasaan campur aduk. Besok adalah hari puncak.30 Juni 2019, dini hari.
Jam menunjukkan pukul dua pagi ketika saya mulai summit push. Headlamp menerangi jalur yang semakin curam. Pasir vulkanik dan bebatuan licin membuat setiap langkah harus dihitung. Kabut tebal kadang menutup pandangan, angin dingin menusuk tulang. Tapi saya terus melangkah. Satu demi satu.
Dan akhirnya… saya sampai.Pagi masih muda ketika kaki saya menginjak puncak Gunung Kerinci. Kabut sesekali terbuka, memperlihatkan lautan awan yang membentang luas di bawah sana. Kawah gunung yang masih berasap mengingatkan saya betapa hidup dan kuatnya alam. Capek luar biasa, kaki gemetar, tapi hati penuh.Saya hanya menulis satu kalimat di X pada pukul 12:24 WIB: “Alhamdulillah bisa nginjakan kaki di puncak gunung kerinci..pagi tadi...”Tidak ada kata-kata bombastis. Tidak ada panjang lebar. Hanya syukur yang tulus. Karena bagi saya, Kerinci bukan sekadar gunung yang ditaklukkan. Ia adalah bukti bahwa rutinitas sepeda pagi, lari sore, dan renang yang selama ini saya jaga ternyata membawa saya ke tempat yang dulu hanya mimpi.Di puncak itu, saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang kecepatan atau sorak-sorai. Kadang cukup dengan langkah pelan tapi pasti, ditemani doa dan rasa syukur yang tak pernah pudar.Kerinci adalah pembuka. Ia mengajarkan saya bahwa setiap puncak yang dicapai akan selalu membuka pintu ke petualangan berikutnya — entah itu gunung lain, rutinitas sehat yang konsisten, atau tugas-tugas kehidupan sebagai ayah, guru, dan pribadi yang ingin terus memberi manfaat.Dan hingga hari ini, setiap kali saya melihat foto lama itu, saya masih bisa merasakan hembusan angin di puncak Kerinci… serta bisikan pelan di hati: Alhamdulillah.

Komentar

Postingan Populer