Pemberdayaan
Bab Sosial & Pemberdayaan: Memberi yang Selalu Kembali
(Dari Memoar Perjalanan Saya)2019 – Sampai SekarangPetualangan hidup saya tidak hanya berputar di gunung, sepeda, renang, lari, atau ruang kelas TK PAUD Siaga. Ada satu bidang lagi yang memberi makna yang sangat dalam: sosial dan pemberdayaan.Saya terlibat aktif dengan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Bagi saya, ini adalah wujud nyata dari rasa syukur atas segala nikmat yang diterima. Menolong sesama bukanlah kegiatan sampingan, melainkan bagian integral dari perjalanan hidup.Saya ingat momen Wisuda Tahfidz di Rumah Tahfidz Al Ikhlas yang bekerja sama dengan Baznas. Melihat anak-anak kecil naik panggung dengan penuh kebanggaan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an adalah salah satu hari paling membahagiakan. Saya memposting dengan sederhana, tapi hati saya penuh:“Wisuda tahfidz..”Kegiatan sosial mengajarkan saya bahwa pendidikan dan pemberdayaan adalah investasi jangka panjang. Memberdayakan anak usia dini melalui TK PAUD Siaga, mendukung program tahfidz, membantu distribusi zakat, serta berbagai kegiatan sosial lainnya adalah cara saya membalas kebaikan yang telah saya terima.Di bidang sosial, saya belajar tentang kerendahan hati. Sering kali saya melihat langsung bagaimana sebuah bantuan kecil dapat mengubah senyum dan harapan seseorang. Saya juga belajar bahwa memberi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Kadang cukup dengan waktu, perhatian, ilmu, atau semangat yang kita bagikan.Rutinitas olahraga pagi saya (sepeda, lari, renang) dan pengalaman mendaki gunung memberi saya energi dan mental yang kuat untuk menjalankan kegiatan sosial. Tubuh yang sehat memungkinkan saya lebih sigap membantu, lebih sabar mendengarkan cerita masyarakat, dan lebih ikhlas dalam melayani.Alhamdulillah untuk setiap kesempatan bisa berbagi. Sosial dan pemberdayaan mengingatkan saya bahwa hidup ini bukan hanya tentang mencapai puncak sendiri, tapi juga tentang mengajak dan membantu orang lain naik ke tempat yang lebih baik.Dari puncak Kerinci yang saya injak sendirian di pagi buta, hingga momen melihat anak yatim tersenyum bahagia saat wisuda tahfidz — semuanya menyatu dalam satu filosofi:
Semakin kita memberi, semakin kita menjadi kaya hati.Kegiatan sosial mengajarkan saya bahwa perjalanan hidup yang paling indah adalah perjalanan yang tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Komentar
Posting Komentar