Lumajang

Bab Petualangan: Menyaksikan Mahameru
(Dari Memoar Perjalanan Saya)
Desember 2021Setelah Kerinci yang menantang dan Singgalang yang damai, saya kembali merasakan panggilan alam yang lebih besar. Kali ini, mata saya tertuju pada Gunung Semeru — Mahameru, puncak tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl.Perjalanan ini berbeda. Bukan hanya soal mendaki, tapi juga tentang kesabaran dan menghargai rencana yang tertunda. Sudah lama Semeru hanya menjadi mimpi di daftar keinginan saya. “Dulu hanya rencana aja…” begitu yang selalu saya ucapkan dalam hati. Hingga akhirnya, di bulan Desember 2021, saya tiba di Lumajang, Jawa Timur.Pagi itu, 21 Desember 2021, saya berdiri menyaksikan Semeru dari kejauhan. Udara Lumajang masih sejuk, kabut tipis menyelimuti lembah, dan di kejauhan berdiri gagah Mahameru dengan asap putih yang pelan mengepul dari kawahnya. Saya mengabadikan momen itu dan menuliskan di akun X saya:“Pagi di Lumajang..
Dulu hanya rencana aja...
Rujukan kab SBS
#SEMERU #lumajang #RPKS”
Caption itu singkat, tapi sarat makna. Semeru saat itu sedang dalam masa pemulihan setelah erupsi besar beberapa minggu sebelumnya (4 Desember 2021). Jalur pendakian masih dibatasi atau bahkan ditutup untuk keselamatan. Saya tidak memaksakan diri mencapai puncak. Bagi saya, kehadiran di sana, melihat langsung mahakarya alam itu, sudah menjadi anugerah yang cukup.Semeru mengajarkan saya tentang kerendahan hati di hadapan alam. Gunung ini indah sekaligus perkasa. Ia bisa memberikan pemandangan lautan awan yang memukau di Ranu Kumbolo, tapi juga mengingatkan kita betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam. Saya belajar bahwa tidak semua rencana harus langsung terealisasi sesuai harapan. Kadang, Tuhan memberi kita momen untuk sekadar menyaksikan, merenung, dan bersyukur dari kejauhan.Perjalanan ke Lumajang itu memperkuat komitmen saya terhadap kesehatan dan petualangan. Rutinitas sepeda, lari, dan renang yang saya jaga selama bertahun-tahun ternyata membekali saya dengan fisik dan mental yang siap menghadapi perjalanan jauh seperti ini. Meski tidak sampai ke puncak Mahameru saat itu, perjalanan ini tetap terasa lengkap.Dari puncak Kerinci yang saya injak, Telaga Dewi Singgalang yang saya sapa, hingga pagi yang tenang di kaki Semeru — semuanya menyatu menjadi satu benang merah: perjalanan hidup adalah tentang langkah, syukur, dan kesabaran menanti waktu yang tepat.Setiap kali saya melihat foto pagi di Lumajang itu, saya tersenyum. Karena rencana yang dulu hanya angan, kini telah menjadi kenangan nyata. Dan entah kapan, jika Allah izinkan, saya akan kembali ke Semeru untuk menyapa lebih dekat.Alhamdulillah, untuk setiap pemandangan yang pernah saya lihat dan setiap rencana yang pelan-pelan menjadi kenyataan.

Komentar

Postingan Populer