Deklarasi Partai Keadilan
“Ayo akh… geser ke tengah. Liat saudara-saudara kita di tengah. Kita harus ikut merasakan. Sama-sama panas dan berkeringat. Inget… ini bakal jadi sejarah.”
Kalimat itu masih nyangkut di kepala saya sampai hari ini.
Padahal waktu itu saya lagi males banget.
Panas.
Gerah.
Debu lapangan beterbangan.
Badan pengen minggir ke pinggir tenda sambil nyari es teh dingin.
Saat itu ada deklarasi peletakan batu pertama sebuah rumah bernama Partai Keadilan di lapangan Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan.
Waktu itu… kami bahkan belum tahu sejauh apa perjalanan rumah ini nanti.
Yang kami tahu cuma satu, kami ingin ikut menaruh batu kecil dalam perjuangan besar ini.
Tapi ada yang narik pelan sambil ngomong begitu.
Dan aneh ya… Kadang hidup kita berubah bukan karena pidato panjang.
Bukan karena buku tebal.
Tapi karena satu kalimat tulus dari teman seperjuangan.
Waktu itu kami cuma orang-orang biasa. Sendal swallow.
Keringat bau matahari.
Dompet tipis.
Masa depan juga belum jelas.
Tapi kami punya satu hal , keyakinan.
Keyakinan bahwa negeri ini harus dibangun bukan cuma oleh orang pintar… tapi juga oleh orang-orang yang mau bertahan.
Hari berganti.
Tahun berlalu.
Partai Keadilan berubah nama. Orang-orang di dalamnya juga silih berganti.
Ada yang dulu di belakang layar sekarang jadi tokoh.
Ada yang dulu teriak paling depan sekarang memilih diam. Ada yang pergi. Ada yang kecewa. Ada juga yang masih setia duduk di pojokan… sambil sesekali senyum melihat adik-adiknya tumbuh besar.
Dan hebatnya… rumah ini masih tetap berdiri.
Kadang dihantam badai. Kadang dicaci kiri kanan. Kadang dianggap selesai.
Tapi setiap kali orang mengira rumah ini runtuh… selalu ada orang-orang sederhana yang diam-diam datang membawa semen baru.
Ada yang nyumbang tenaga. Ada yang nyumbang doa. Ada yang nyumbang waktu hidupnya.
Tanpa headline. Tanpa kamera. Tanpa tepuk tangan.
Karena mereka sadar… perjuangan itu memang tidak selalu viral.
Kadang cuma soal, tetap datang walau capek. Tetap bertahan walau kecewa. Tetap baik walau tak dianggap.
Dan kini… tantangannya mungkin bukan lagi sekadar bertahan.
Tapi bagaimana mengajak generasi muda masuk ke rumah ini.
Generasi yang hidup di zaman serba cepat. Yang lebih akrab dengan swipe daripada rapat. Lebih hafal trend TikTok daripada sejarah perjuangan.
Bukan salah mereka. Dunia mereka memang berbeda.
Maka tugas kita bukan sibuk mengeluh, “anak muda sekarang susah diajak berjuang.”
Tapi bagaimana membuat mereka merasa… bahwa rumah perjuangan ini juga milik mereka.
Bahwa Partai Keadilan dulu dibangun oleh anak-anak muda yang mungkin tak punya apa-apa… selain keyakinan dan keberanian untuk bertahan.
Bahwa perjuangan bukan barang kuno. Bahwa membangun umat itu tetap keren. Bahwa idealisme tidak kalah hebat dibanding popularitas.
Karena rumah ini tidak boleh hanya dipenuhi foto-foto lama dan cerita nostalgia.
Ia harus terus hidup.
Terus diisi tawa anak-anak muda.
Terus dipenuhi langkah baru.
Terus melahirkan orang-orang baik yang mau bekerja untuk umat dan negeri.
Sebab sejatinya… rumah perjuangan bukan diwariskan lewat bangunan.
Tapi lewat api keyakinan yang pindah dari satu hati ke hati berikutnya.
Dan saya percaya… selama masih ada orang-orang yang mau “geser ke tengah lapangan”… mau ikut panas… mau ikut berkeringat… rumah ini akan terus bertahan.
Bukan sekadar untuk dikenang.
Tapi untuk terus memberi manfaat.
Bangjian, temen ngopi tanpa gula
Komentar
Posting Komentar