SIBUKMU UNTUK APA?
SIBUKMU UNTUK APA?
By. Satria hadi lubis
SETIAP hari kita sibuk. Dari pagi hingga malam, dari satu urusan ke urusan lain. Agenda penuh, notifikasi tak henti, target demi target dikejar. Kita menyebutnya produktif. Kita menyebutnya tanggung jawab. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur : SIBUKMU UNTUK APA?
Sibuk itu tidak salah. Islam tidak mengajarkan kemalasan. Bahkan Rasulullah saw adalah manusia yang sangat sibuk. Beliau mengurus umat, memimpin, berdakwah dan membina, berperang, serta mengurus keluarga. Namun, seluruh kesibukan beliau terarah, terikat pada satu tujuan besar, yaitu mencari ridha Allah.
Masalahnya, banyak dari kita sibuk tapi kosong arah. Penuh aktivitas, tapi hampa makna. Lelah fisik, tapi tidak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita kejar dunia seakan hidup ini selamanya, tapi menunda akhirat seakan kematian tak pernah ada. Allah SWT sudah mengingatkan kita dengan tegas :
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Betapa banyak orang yang tenggelam dalam kesibukan, sampai lupa tujuan. Bangun pagi langsung mengejar dunia, siang sibuk urusan manusia, malam lelah tanpa sempat bermunajat kepada Rabb-nya. Shalat jadi sekadar menggugurkan kewajiban, bahkan terkadang tertinggal karena alasan “sibuk”. Padahal Rasulullah saw telah mengingatkan :
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Kita sering merasa tidak punya waktu, padahal sebenarnya waktu kita habis untuk hal yang tidak bernilai di sisi Allah.
Coba renungkan :
Berapa banyak waktumu untuk Al-Qur’an dibandingkan layar ponsel?
Berapa lama kau berbicara dengan manusia dibandingkan berbicara kepada Allah dalam doa dan ibadah?
Berapa besar energi yang kau curahkan untuk dunia dibandingkan untuk akhiratmu?
Berapa banyak fokus yang kau habiskan untuk cari duit dibandingkan untuk berdakwah dan memiliki binaan?
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)? (QS. Fushilat: 33)
Berprestasi dalam science itu baik. Menguasai teknologi di berbagai bidang itu bagus. Bahkan bisa menjadi kebanggaan bahwa Islam itu ajaran yang berpihak pada kemajuan jaman. Namun semua itu tak bisa menjadi alasan untuk melalaikan ibadah dan dakwah.
Sibuk bekerja itu baik. Sibuk mencari nafkah itu mulia. Sibuk mengurus keluarga itu ibadah. Tapi semua itu hanya bernilai jika terikat dengan niat dan tidak melalaikan kewajiban utama.
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Kesibukan yang tidak mengingatkan kita kepada Allah justru akan membuat kita kehilangan arah hidup, bahkan kehilangan diri sendiri.
Seorang mukmin sejati bukan orang yang tidak sibuk. Tapi orang yang mampu mengendalikan kesibukannya. Ia tahu kapan bekerja, kapan berhenti. Ia tahu bahwa dunia hanya ladang, bukan tujuan.
Ia sibuk, tapi hatinya tetap tenang.
Ia lelah, tapi jiwanya tetap hidup.
Ia beraktivitas, tapi tidak jauh dari Allah.
Karena ia selalu bertanya dalam hatinya : Apakah kesibukan ini mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?
Hari ini, coba kita berhenti sejenak. Lihat ulang hidupmu. Evaluasi kesibukanmu. Jangan tunggu sampai lelahmu tidak bernilai, sampai waktumu habis tanpa bekas. Jangan sampai kelak pulang tak bawa bekal pahala dan hanya memanen penyesalan.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang akan ditanya. Tapi untuk apa kita sibuk. Dan di hari itu, semua kesibukanmu akan dipertanggungjawabkan.
Jadi, sibukmu untuk apa?
"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah: 105)
Komentar
Posting Komentar