GAJIMU DARI ALLAH
GAJIMU DARI ALLAH
By. Satria hadi lubis
SETIAP akhir bulan, banyak orang menunggu satu hal : momen gajian. Sejumlah uang yang masuk ke rekening. Hasil dari kerja sebulan penuh. Lalu kita sering berkata, "Ini gajiku dari kantor." Atau, "Ini dari perusahaan." Atau, "Ini dari atasan."
Padahal seorang muslim seharusnya melihat lebih dalam. Gajimu sebenarnya dari Allah. Kantor hanyalah tempatmu bekerja. Atasan hanyalah orang yang menandatangani slip gaji. Perusahaan hanyalah perantara. Tetapi yang memberi rezekimu adalah Allah SWT.
Buktinya, betapa banyak orang yang bekerja keras tetapi tidak mendapatkan hasil yang cukup. Betapa banyak perusahaan besar yang tiba-tiba runtuh. Dan betapa banyak orang yang tidak pernah menyangka rezekinya datang dari arah yang tak terduga. Semua itu mengingatkan kita bahwa rezeki tidak sepenuhnya ditentukan oleh manusia.
Karena itu ketika gaji datang, hal pertama yang seharusnya muncul di hati kita adalah bersyukur kepada Allah. Bukan sekadar puas karena angka di rekening, tetapi sadar bahwa Allah masih memberi kita kesempatan bekerja, memberi kita kesehatan, memberi kita kemampuan, dan membuka pintu rezeki melalui pekerjaan kita.
Jika kita menyadari bahwa gaji berasal dari Allah, maka cara kita bekerja pun akan berubah. Kita tidak lagi bekerja hanya karena atasan melihat. Kita bekerja karena Allah melihat. Kita tidak hanya berusaha menyenangkan pimpinan, tetapi juga berusaha menjaga amanah di hadapan Allah SWT. Di sinilah tempat kerja berubah menjadi ladang dakwah.
Seorang muslim berdakwah bukan hanya di mimbar atau di masjid. Ia juga berdakwah melalui kebaikan yang ia sebar di kantornya. Ia juga berdakwah melalui etika kerjanya. Datang tepat waktu. Bekerja dengan sungguh-sungguh. Bersikap jujur. Menolong rekan kerja, dan menjadi teladan. Semua itu adalah dakwah yang sering kali lebih kuat daripada kata-kata.
Seorang muslim juga harus memandang pekerjaannya sebagai tempat berkhidmat, menjadi pengabdian selama pekerjaan itu berada dalam kebaikan. Ia bekerja dengan penuh tanggung jawab karena merasa sedang menjalankan amanah.
Dan ada satu garis yang tidak boleh dilanggar : tidak korupsi dan tidak curang. Karena jika kita percaya gaji berasal dari Allah, maka kita tidak perlu mencarinya dengan cara yang haram. Tidak perlu mengambil yang bukan hak kita. Tidak perlu memanipulasi laporan. Tidak perlu menyalahgunakan jabatan.
Rezeki yang halal mungkin terlihat sederhana, tetapi ia membawa keberkahan. Sedangkan rezeki yang didapat dengan cara curang mungkin terlihat besar, tetapi sering kali menghilangkan ketenangan hidup.
Maka setiap kali gaji datang, ingatlah satu hal sederhana :
Bukan kantor yang memberi kita rezeki.
Bukan atasan yang menentukan nasib kita.
Namun Allah-lah yang memberi kita rezeki.
Karena itu bekerjalah dengan ikhlas dan jujur, berkhidmatlah dengan sungguh-sungguh, serta jadikan tempat kerjamu sebagai ladang amal. Agar setiap rupiah yang kita terima bukan hanya menjadi penghasilan, tetapi juga menjadi pahala di sisi Allah SWT.
"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (Qs. 11 ayat 6)
Komentar
Posting Komentar