lKHLAS KAMI TAKKAN TERBELI
*lKHLAS KAMI TAKKAN TERBELI*
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
_Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya *menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya* dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus._ (QS. al-Bayyinah, 98:5).
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
_Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk *Allah,* Tuhan seluruh alam,_ (QS. al-An'am, 6:162).
لَا شَرِيۡكَ لَهٗۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرۡتُ وَاَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِيۡنَ ١٦٣
_*"tidak ada sekutu bagi-Nya;* dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)."_ (QS. al-An'am, 6:163).
1. Ikhlas adalah *ketulusan.*
2. *Ikhlas* adalah menghendaki wajah Allah, mencari *ridha-Nya,* dan mencari kebaikan *pahala-Nya.*
3. *Alloh menjadi tujuan* dalam setiap ucapan dan perbuatan kita.
4. *Setiap muslim* hendaklah selalu berintrospeksi tentang motif sejati dalam setiap amalnya; apakah untuk menghendaki *wajhullah,* atau untuk mencari *wajhu ghairillah.*
قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ ١١
_Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya."_ (QS. az-Zumar, 39:11)
قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْۚ ١٤
_Katakanlah, "Hanya Allah yang aku sembah dengan mengikhlaskan ketaatanku kepada-Nya."_ (QS. az-Zumar, 39:14)
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ : بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ .
Dari 'Umar Ibnul Khattab r.a. dia berkata: _"Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Amal itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.""_ (HR. Bukhari & Muslim)
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
Dari Abi Hurairah r.a. dia berkata: _"Bersabda Rasulullah saw: "Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu.""_ (HR. Muslim)
5. Diterima atau tidaknya suatu *amal* tergantung pada *niatnya.*
6. Ikhlas ibarat ruh bagi amal. Keberadaannya akan membuat *amal menjadi hidup* dan *muntijah.* Sedang ketiadaannya akan membuat *amal mati tak berbuah.*
7. Begitu pentingnya ikhlas, sampai Kyai Hasan menjadikannya *rukun baiat yang kedua,* persis setelah Rukun al-Fahmu. Seakan beliau ingin mengatakan bahwa setelah memahami apa yg harus dikerjakan, hal kedua yang perlu kita berbaiat tentangnya adalah *ikhlas menjalankan semua pekerjaan itu.*
8. Ketika berbicara tentang *ikhlas,* Kyai Hasan menuntut setiap kader yang berkecimpung di medan dakwah untuk mengharapkan *ridha Allah* dalam seluruh *jerih payahnya.*
9. Harta, popularitas, kedudukan, dan gelar bukanlah tujuan seorang mukmin. Kekayaan dan kepentingan duniawi bukanlah tujuan seorang mukmin. Ilmu dan kekuatan materi bukanlah tujuan seorang mukmin. Dunia dan seluruh isinya bukanlah tujuan seorang mukmin dan memang tidak layak untuk dijadikan tujuan. Semua itu *hanyalah sarana* untuk Tujuan Mahaagung, yaitu Allah swt.
10. *Orang yang ikhlas* akan merasa senang bila orang lain mendapat kenikmatan, meskipun dirinya tidak mendapatkan apa-apa.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰهِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ٣
_"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" "Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."_ (QS. ash-Shaff, 61:2-3).
اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٤
_"Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci? Tidakkah kamu mengerti?"_ (QS. al-Baqarah, 2:44).
11. Dakwah, baik *dakwah ammah, dakwah fardhiyyah maupun halaqah* yg bersifat tertutup dan terbuka, semuanya memerlukan keikhlasan.
12. Ikhlas dalam dakwah ammah artinya setiap kata yg disampaikan oleh *seorang dai* hanyalah untuk mengharap *ridha Allah;* bukan karena mengharap dipuji, dianggap hebat, disebut tokoh atau pemimpin, apalagi ingin menyaingi pembicara lain dan memuji-muji sendiri ceramahnya.
13. Di antara contoh nyata dari bentuk *kesyirikan seorang da'i* ketika melakukan dakwah fardiyah adalah *memanfaatkan mad'u* untuk kepentingan pribadi.
14. Sifat istimewa yang paling menonjol dalam arus kebangkitan Islam adalah *keikhlasan karena Allah* dalam setiap amal yang dilakukan. Ikhlas adalah sifat yang tidak dijumpai pada kelompok lain yang dikuasai oleh *hawa nafsu dan ambisi-ambisi pribadi.* Dari keikhlasan inilah, kemenangan, petunjuk, dan *pertolongan Allah turun* kepada orang-orang yg ikhlas.
15. Beramal demi manusia adalah *kebodohan.* Beramal demi kehormatan diri adalah *kepandiran.* Beramal demi kedudukan adalah *keculasan.* Dan tidak melibatkan Allah dalam setiap interaksi adalah *sebodoh-bodohnya kebodohan.*
16. Termasuk kategori berjuang demi penampilan adalah orang yang berjuang demi mendapatkan popularitas dan kedudukan. Jadi, barang siapa di balik amal islaminya berambisi untuk meraih popularitas dan kedudukan, maka *hilanglah nilai keikhlasan dari dalam dirinya.*
17. Seseorang hanya akan *mampu bersabar* dalam beramal dengan sekian banyak konsekuensinya bila dilandasi oleh *keikhlasan.*
18. *Bersabar* terhadap kesulitan yang menimpa diri, harta, dan keluarga merupakan indikator *keikhlasan.*
19. Ketika sedang *bermuamalah,* seorang dai dan aktivis harokah Islamiyyah tidak memiliki pilihan lain kecuali *bersabar* terhadap gangguan manusia dan beban-beban amal.
20. Mencintai dan memperlihatkan kecintaan kepada orang lain apabila tidak dilandasi *keikhlasan* maka tidak berguna dan tidak akan diterima Allah swt. Bahkan jika *kosong dari keikhlasan* boleh jadi akan memancing kemurkaan Allah swt.
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ١٥٣
_Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa._ (QS. al-An'am, 6:153).
21. _"Musuh manusia ada *tiga,* yaitu *dunia, setan,* dan *nafsu.* Waspadalah terhadap dunia dengan zuhud, setan dengan menentangnya, dan nafsu dengan meninggalkan kesenangan-kesenangannya."_ Yahya bin Mu'adz Ar-Razi.
22. *Iri dan dengki* adalah pintu yang sering dipakai setan untuk masuk ke dalam hati seseorang. Orang yang sudah dihinggapi rasa dengki akan merasa iri dan tidak terima apabila orang lain mendapat anugerah.
23. Buah-buah manis amal kita biarlah ada di dalam jiwa umat. Lepas apakah karena itu kita mendapatkan *posisi strategis* dalam barisan dakwah atau tidak.
24. Kami adalah *tentara fikrah dan akidah.* Bukan tentara ambisi dan kepentingan pribadi.
25. *Tentara fikrah* tak pernah mempertimbangkan *untung rugi* dalam setiap amal dakwahnya.
26. Tentara aqidah berdakwah karena meyakini bahwa waktu, tenaga, harta dan popularitasnya merupakan modal dasar untuk dakwah dan mad'u yang dibinanya. Oleh karena itu, dia merasa harus melaksanakannya dengan sukarela, bahagia dan *mengharapkan pahala dari Allah swt. saja.*
27. Sedangkan tentara bayaran *tidak mengenal pahala di sisi Allah.* Mereka hanya mengenal balasan dari manusia saja. Mereka hanya menginginkan balasan di dunia berupa kekayaan dan materi. Sungguh sangat jauh perbedaan di antara keduanya. Betapa malangnya orang yang mengharapkan apa yang ada di sisi manusia dan melupakan apa yang ada di sisi Allah!
28. *Tentara aqidah* selalu bertindak cepat, sehingga barisan mereka bersih dari orang-orang *munafik* dan *para pencari keuntungan duniawi.*
_Allohu ghoyatuna._
_Allohu akbar, wa lillahi al-hamd._
-----------------------------------
Disarikan dari buku *Ruknu al-Ikhlash fii Majalati al-'Amal al-Islami* by _DR. Ali Abdul Halim Mahmud,_ Maktabah Wahbah, Qohiroh.
_Wong Fei Fung, 03/03/2026_
Komentar
Posting Komentar