KALAU SUDAH TUA, TINGGAL MOMONG CUCU?

KALAU SUDAH TUA, TINGGAL MOMONG CUCU?

By. Satria hadi lubis 

KADANG hati ini miris…
Ketika mendengar seseorang berkata, "Sudahlah… saya sudah tua. Sekarang waktunya istirahat. Waktunya ternak itik (anter anak dan istri cantik). Sekarang tinggal momong cucu aja."
Seolah hidup ini sudah selesai.
Seolah perjuangan sudah cukup.
Seolah pahala sudah penuh.

Padahal… justru di usia tua itulah segalanya sedang dipertaruhkan.
Bukankah kita tidak tahu… apakah amal kita selama ini sudah cukup?
Bukankah kita tidak tahu… apakah Allah ridha dengan hidup kita?
Lalu bagaimana mungkin kita berani memilih untuk melambat…
ketika akhir perjalanan sudah begitu dekat?

Lihatlah para ulama…
Semakin renta tubuh mereka, semakin hidup hati mereka untuk berdakwah dan membina.
Semakin lemah fisik mereka, semakin kuat ibadah mereka.
Mereka tidak berkata, "Aku sudah tua."
Mereka justru berkata dalam diam,
"Waktuku tinggal sedikit… aku harus berbuat lebih banyak lagi."

Lihatlah Musa bin Nushair rohimahullah, menaklukan Andalusia pada saat berusia 79 tahun! 
Ia bersama Thoriq bin Ziyad memimpin jihad membebaskan Semenanjung Andalusia (kini Spanyol dan Portugis) dari penyembahan berhala dan kezaliman. 
Di usia 79 tahun ia masih menarik tali kekang kudanya, menuruni lembah dan menaiki pegunungan di wilayah sangat luas tersebut. 

Lihat juga seorang ulama hadits bernama Sholeh bin Kaisan rohimahullah. Seperti dikisahkan dalam kitab Tadzhibud Tadzhib, beliau baru memulai belajar dan mencari ilmu di usia 70 tahun! 
Meskipun sangat telat, banyak riwayat menyatakan ketangguhan ingatan Sholeh bin Kaisan dalam mengajar ilmu hadits sehingga kerap mengalahkan perawi-perawi lain yang usianya lebih muda.

Sementara kita?
Baru sedikit beramal, sudah ingin beristirahat.
Baru beberapa langkah, sudah merasa lelah.
Baru diberi umur panjang, tapi ingin menggunakannya untuk bersantai.

Kalau sudah tua, memang indah bisa menggendong cucu…
Mendengar tawa mereka, melihat mereka tumbuh.
Tapi jangan sampai…
tawa cucu membuat kita lupa tangisan di akhirat.

Jangan sampai…
kesibukan dunia di usia senja membuat kita lalai dari persiapan pulang.
Karena sesungguhnya… usia tua itu bukan masa pensiun dari ibadah dan dakwah.
Ia adalah detik-detik terakhir sebelum kita menghadap Allah.

Jika dulu kita masih sibuk dengan dunia,
maka sekarang seharusnya kita lebih sibuk dengan akhirat.
Jika dulu lalai,
maka sekarang waktunya mengejar.
Jika dulu sedikit beramal,
maka sekarang waktunya melipatgandakan.

Kalau kaki sudah lemah, biarkan ia tetap melangkah dalam dakwah dan membina.
Kalau suara mulai bergetar, biarkan ia basah dengan zikir.
Kalau tenaga menurun, biarkan hati yang bekerja dengan doa yang tak pernah putus.

Justru dengan tetap bergerak dan berpikir aktif, tubuh lebih bugar dan pikiran tidak cepat pikun.

Jadi, jangan jadikan usia sebagai alasan untuk berhenti ibadah dan dakwah…
tapi jadikan ia sebagai alarm bahwa waktu hampir habis.

Tahanlah lelahmu.
Tahanlah letihmu.
Tahanlah keinginanmu untuk bersantai terlalu cepat.

Karena istirahat yang sebenarnya…
bukan di ranjang rumahmu,
bukan di pelukan anak dan cucumu.
Istirahat yang sebenarnya…
adalah ketika Allah berkata,
"Masuklah ke dalam surga-Ku… dengan tenang dan bahagia." (Qs. Al Fajr ayat 27-30)

Komentar

Postingan Populer