Jangan Menunggu Semangat… Tetapi Didiklah Dirimu untuk Taat

🌻🌻🌻✳️🌻🌻🌻

*Jangan Menunggu Semangat… Tetapi Didiklah Dirimu untuk Taat*

@ Wildan Hakim

(لا تنتظر الشغف… بل ربِّ نفسك على الطاعة)

Allah Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

"Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabūt: 69)

Di antara tipu daya jiwa yang paling halus adalah ketika ia membisikkan kepada pemiliknya:

"Tunggulah sampai hatimu siap… sampai semangatmu datang… sampai suasana hatimu menjadi baik."

Padahal pada hakikatnya itu bukanlah kebijaksanaan. Itu hanyalah cara jiwa menunda ketaatan.

Jiwa yang belum terdidik selalu ingin bergerak mengikuti perasaan. Ketika ia merasa ringan, ia bekerja. Namun ketika ia merasa berat, ia berhenti.

Padahal jalan menuju Allah tidak dibangun di atas perasaan yang berubah-ubah, tetapi dibangun di atas mujāhadah yang terus-menerus —kesungguhan yang tidak bergantung pada keadaan hati.

Para ulama tarbiyah sejak dahulu telah memahami rahasia ini. Mereka berkata:

ليس الشأن أن تعمل إذا رغبت، ولكن الشأن أن تعمل لأن الله يحب ذلك

"Kemuliaan bukanlah ketika engkau beramal saat engkau menginginkannya, melainkan ketika engkau beramal karena Allah mencintai amal itu."

Bukanlah keutamaan seseorang ketika ia beramal hanya ketika hatinya ingin. Keutamaannya justru tampak ketika ia beramal karena Allah menyukai amal itu, meskipun dirinya belum merasakannya sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Inilah tarbiyah terhadap jiwa. Sebab jiwa manusia—jika dibiarkan—akan selalu memilih yang mudah, menunda yang berat, dan mencari alasan untuk berhenti.

Karena itu para murabbi ruhani mengajarkan sebuah kaidah penting:

ربِّ نفسك قبل أن تتبعها

"Didiklah jiwamu sebelum engkau menuruti keinginannya."

Jika seseorang menunggu semangat untuk beramal, maka sering kali ia akan menunggu terlalu lama. Tetapi jika ia memaksa dirinya untuk istiqamah dalam amal, maka Allah akan menanamkan ketenangan di dalam hatinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa keberlangsungan amal lebih berharga daripada ledakan semangat sesaat.

Sebab semangat sering datang dan pergi, sedangkan istiqamah adalah buah dari disiplin jiwa.

Orang yang terbiasa bangun untuk shalat malam tidak selalu bangun karena semangatnya tinggi. Sering kali ia bangun karena ia telah mendidik dirinya untuk tidak tunduk kepada rasa malas.

Demikian pula orang yang istiqamah di jalan dakwah. Ia tidak selalu berjalan dalam keadaan ringan. Sering kali ia melangkah dalam keadaan berat—namun ia tetap melangkah.

Dan dari situlah lahir kekuatan ruhani yang sejati.

Para salaf memahami bahwa kenikmatan ibadah tidak selalu datang di awal perjalanan. Sering kali ia datang setelah perjuangan panjang melawan hawa nafsu.

Sebagian ulama berkata:

جاهدت نفسي على قيام الليل عشرين سنة، ثم تلذذت به عشرين سنة

"Aku memaksa diriku untuk menegakkan shalat malam selama dua puluh tahun, kemudian aku merasakan kenikmatannya selama dua puluh tahun berikutnya."

Inilah hakikat jalan tarbiyah.

Awalnya adalah mujāhadah—perjuangan melawan diri. Kemudian lahir ma'rifah—kedekatan hati kepada Allah. Dan setelah itu Allah menganugerahkan ḥalāwah al-ṭā'ah—manisnya ketaatan.

Karena itu janganlah seseorang berkata:

"Aku akan bergerak ketika aku merasa bersemangat."

Tetapi katakanlah kepada dirimu:

"Aku akan bergerak karena Allah memanggilku untuk bergerak."

Sebab orang yang mengikuti hawa nafsunya akan selalu mencari alasan untuk berhenti. Namun orang yang mendidik jiwanya akan selalu menemukan alasan untuk melanjutkan perjalanan.

Di sinilah letak perbedaan antara dua manusia: Satu manusia dibentuk oleh keinginannya,
sedangkan yang lain dibentuk oleh disiplinnya.

Yang pertama mudah hanyut mengikuti arus.
Yang kedua mampu menuntun arus.

Dan siapa pun yang ingin menempuh jalan kedekatan kepada Allah harus memahami satu hakikat besar:

bahwa jiwa tidak akan sampai kepada kemuliaan selama ia masih menjadi tawanan hawa nafsunya.

Karena itu, wahai jiwa yang ingin bertumbuh…

Jangan menunggu datangnya semangat untuk beramal. Beramal lah —meskipun semangat belum hadir.

Sebab sering kali semangat adalah hadiah dari amal, bukan syarat untuk memulainya.

Dan siapa yang terus berjihad melawan dirinya, Allah akan membukakan baginya jalan-jalan hidayah.

Sebagaimana janji-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-'Ankabūt: 69)

.....

Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih.

Komentar

Postingan Populer