Perjuangan Panjang, Tubuh yang Terlupakan
*Perjuangan Panjang, Tubuh yang Terlupakan*
Saya aktivis akhir tahun 90-an. Artinya sekarang usia saya menjelang 50 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, *hampir tiap pekan saya menerima kabar duka*. Ada saja kawan yang meninggal di usia 40-an atau awal 50-an. Ada yang stroke, serangan jantung, komplikasi diabetes, hingga gagal ginjal. *Sebagian besar karena penyakit metabolik.*
Setiap kali mendengar kabar itu, hati saya terasa ditekan. Karena saya sadar, saya bukan penonton. Saya bagian dari cerita itu.
Tahun 2018, saat usia 40 tahun, saya didiagnosis diabetes dengan HbA1C 12. Padahal kondisi normal gula darah itu ketika HbA1C berada di bawah 5,7. Artinya saat itu kondisi saya sudah sangat jauh dari kata sehat. Itu bukan sekadar gula agak tinggi. Itu sudah zona bahaya.
Tahun 2020 saya dipasang 2 ring di pembuluh jantung. Tahun 2022 tambah 1 ring lagi. Tahun 2023 akhir tambah 3 ring lagi. Total hari ini ada 6 ring di pembuluh jantung saya. Beberapa kali saya mengalami serangan jantung. Ada masa di mana berjalan 50 meter saja sudah ngos-ngosan. Nafas pendek, dada berat, tubuh seperti kehilangan tenaga.
Ironisnya, sejak muda saya berbicara tentang perjuangan, tentang ketahanan, tentang kekuatan umat. Tetapi tubuh saya sendiri rapuh.
Jika kita jujur, kondisi saya dan banyak saudara lainnya *bukan semata-mata takdir yang misterius.* Sebagian besar merupakan konsekuensi pola hidup. Makan seenaknya, konsumsi ultra processed food, gorengan berlebih, minuman manis, karbohidrat berlebihan, gula tinggi, natrium tinggi, kurang gerak, serta olahraga yang tidak terukur dan tidak cukup.
Dalam tarbiyah kita ada *muwashofat mujahadatun linafsihi dan qowiyyul jism*. Namun pertanyaannya, seberapa serius dua poin ini kita jalankan dalam kehidupan nyata?
Kita berbicara tentang membangun generasi kuat. Kita berbicara tentang peran ayah. Kita berbicara tentang kepemimpinan dalam keluarga. Namun bagaimana mungkin seorang ayah memimpin jika tubuhnya sendiri tidak ia pimpin?
Lihat acara-acara kita. Konsumsi rapat-rapat kita. Makanan olahan, minuman manis, camilan tinggi gula, gorengan dengan minyak berulang. Hampir tidak pernah ada evaluasi serius tentang pola makan. Olahraga pun jarang menjadi budaya bersama. Seakan-akan ruhani urusan langit, sedangkan jasmani urusan nanti saja.
Padahal tubuh ini amanah. Tubuh adalah alat ibadah dan juga alat pengasuhan. Ayah yang cepat lelah akan sulit bermain dengan anaknya. Ayah yang obesitas sulit berlari bersama putranya. Ayah dengan stamina rendah sulit membersamai remaja yang energinya meluap. Ayah yang sering sakit akan lebih sering menjadi penonton dalam kehidupan anaknya.
Gerakan keayahan bukan hanya soal hadir secara emosional. Ia juga tentang hadir secara fisik. Anak membutuhkan ayah yang bisa diajak bergerak, diajak bersepeda, mendaki, berpetualang, dan menjalani hidup aktif. Kekuatan fisik bukan sekadar simbol maskulinitas, tetapi bagian dari rasa aman yang dirasakan anak.
Sejak pasang ring tahun 2023, ketika jumlahnya sudah 6 ring, saya mulai benar-benar sadar bahwa tubuh ini amanah. Saya belajar dari dokter gizi, dokter rehab medik, konsultan jantung, dan praktisi kebugaran. Saya mengubah pola makan secara serius, mengukur asupan, menjalani latihan beban terstruktur, menjadwalkan cardio, serta memperbaiki tidur. Konsisten ini berat, tapi semua ada hasil yang akhirnya kita peroleh.
Tanggal 9 Februari 2026 lalu saya kontrol ke rehab medik konsultan jantung dan spesialis jantung di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta. Hasilnya sangat baik. Semua hasil laboratorium bagus, EKG bagus, kondisi fisik membaik, otot meningkat, lemak turun, dan endurance naik. Perubahan itu bukan mukjizat instan, melainkan hasil disiplin.
Saya merasakan dampaknya bukan hanya pada angka medis, tetapi pada interaksi dengan anak-anak saya. Nafas lebih panjang, energi lebih stabil, fokus lebih jernih, emosi lebih terkendali. Ini bukan sekadar soal hidup lebih lama, tetapi tentang menjadi ayah yang lebih hadir.
Kita semua pernah melihat video bagaimana Yahya Sinwar dibunuh oleh drone IDF. Terlepas dari konteks politiknya, satu hal yang terlihat jelas adalah kondisi fisiknya. Di usia 50 tahun lebih, ia masih mampu bergerak dan bertahan. Tubuhnya atletis, dadanya dan perutnya rata, fisiknya siap.
Lalu bagaimana dengan kita? Usia 45 sudah hipertensi. Usia 48 sudah diabetes. Usia 50 sudah pasang ring berkali-kali. Jalan 100 meter saja ngos-ngosan. Namun kita berbicara tentang membangun generasi tangguh.
Anak laki-laki belajar maskulinitas dari ayahnya. Anak perempuan belajar rasa aman dari ayahnya. Jika ayahnya lemah karena gaya hidup yang ceroboh, pesan apa yang sedang kita wariskan?
Sebagai aktivis peran ayah, saya semakin yakin bahwa reformasi keayahan tidak cukup hanya dengan seminar dan modul. Perlu ada reformasi gaya hidup. Standar konsumsi acara perlu berubah. Budaya olahraga perlu dihidupkan. Evaluasi kesehatan perlu menjadi bagian dari kesadaran ayah.
Kita adalah model bagi anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan masyarakat yang kita dakwahi. Mereka tidak hanya mendengar ceramah kita, mereka meniru kebiasaan kita. Jika kita mewariskan budaya makan sembarangan, budaya malas bergerak, dan budaya abai terhadap kesehatan, maka kita sedang menanam benih masalah bagi generasi berikutnya.
Anak tidak mewarisi teori kita. Anak mewarisi kebiasaan kita. Jika ayah disiplin makan, anak belajar disiplin. Jika ayah rutin olahraga, anak menganggap itu normal. Jika ayah menjaga berat badan dan stamina, anak melihat bahwa menjaga tubuh adalah bagian dari tanggung jawab seorang lelaki.
Gerakan keayahan perlu melahirkan ayah-ayah yang kuat ruhnya dan kuat jasadnya. Ayah yang panjang nafasnya, panjang sabarnya, dan panjang umurnya dalam kontribusi.
Saya hampir menjadi statistik berikutnya. Enam ring di jantung adalah alarm keras. Alhamdulillah saya diberi kesempatan kedua. Karena itu, tulisan ini adalah refleksi seorang ayah yang hampir kehilangan amanah tubuhnya sendiri.
Jika kita ingin perjuangan yang panjang, kita perlu menyiapkan nafas yang panjang. Ruh yang bersih dan jasad yang kuat tidak boleh dipisahkan. Aktivis sejati bukan hanya yang lantang suaranya, tetapi yang panjang kontribusinya, karena tubuhnya dijaga sebagai amanah dan diwariskan sebagai teladan.
Palangkaraya, 26 Februari 2026
*Rizqi Tajuddin*
*Ketua dan Founder Lingkar Ayah Indonesia*
Komentar
Posting Komentar